Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Lifestyle » Konstruksi Makna Oleh Media dalam Memandang Isu Disabilitas

Konstruksi Makna Oleh Media dalam Memandang Isu Disabilitas

(118 Views) Februari 18, 2019 5:26 am | Published by | No comment

Konstruksi Makna Oleh Media dalam Memandang Isu Disabilitas

Penulis Ardhi Ridwansyah (Jurnalis Beritatanahair.com)

Keterangan Gambar : , Remotivi bersama komunitas penyandang disabilitas Jakarta Barrier Free Tourism (JBTF) menggelar diskusi bertajuk Ngobrol Sabtu: Media dan Disabilitas yang dihelat di Gedung Tempo, Jalan Palmerah Barat No. 8, Jakarta Selatan, Sabtu (16/2/19)/Foto : Ardhi Ridwansyah/Beritatanahair.com)

Jakarta , Beritatanahair.com

Lembaga riset tentang media, Remotivi bersama komunitas penyandang disabilitas Jakarta Barrier Free Tourism (JBTF) menggelar diskusi bertajuk Ngobrol Sabtu: Media dan Disabilitas yang dihelat di Gedung Tempo, Jalan Palmerah Barat No. 8, Jakarta Selatan, Sabtu (16/2/2019).

Tiga pembicara yang hadir dalam diskusi tersebut yakni Roy Thaniago (Direktur Eksekutif Remotivi), Cheta Nilawaty (Wartawan Tempo dan Penyandang Disabilitas Netra), dan Rade Bunga (Koordinator JBFT).

Sudut pandang ketika mendengar isu-isu disabilitas tak terlepas dari peranan media, sebab media yang membentuk isu disabilitas tersebut. “Media adalah medium untuk mengakses realitas. Di mana realitas itu jarang saya jumpai (tentang disabilitas, Red). Akhirnya saya belajar, saya memahami, bahwa apa pun tentang disabilitas dibentuk oleh media,” ujar Roy.

Kurangnya perhatian media terhadap isu-isu disabilitas dikarenakan konstruksi budaya secara sosiologis. Roy menjelaskan bagaimana secara sosiologis, budaya bisa dikonstruksi. Lewat definisi dari sosiolog bernama Stuart Hall, dia menjelaskan bahwa budaya merupakan hasil dari produksi dan pertukaran makna.

Budaya, imbuhnya, dalam hal ini menjadi makna. Dia dapat dibagi dan ditetapkan (fiksasi) sebagai suatu kebudayaan yang mesti diterima lewat proses praktik kultural secara terus-menerus yang dilakukan individu atau kelompok.

”Makna kemudian berbeda-beda, makna sifatnya rapuh makna bisa difiksasi. Bisa ditetapkan, bisa dikekalkan. Kenapa gerakan tangan menjulurkan bisa menjadi gerakan salaman? Karena ada yang memfiksasi itu lewat cara praktik kultural. Orang melakukannya setiap hari dan kemudian itu menjadi kode yang dipahami semua orang. Jadi praktik kultural yang dominan, yang secara terus-menerus memfiksasi makna gerakan tangan menjulurkan sebagai salaman,” katanya.

Menurut Roy, Cara kita mempelajari atau memahami suatu budaya khususnya yang terkait dengan disabilitas tentu tak terlepas dari peranan media sebagai medium yang membentuk kesadaran populer.

Menurut Paul Hunt (1991), ada 10 jenis stereotipe disabilitas yang dibentuk oleh media. Roy menjelaskan kesepuluh jenis stereotipe tersebut.
Pertama, The disabled person as pitiable or pathetic (dikasihani). Kedua, an object of curiosity or violence (objek penasaran/kekerasan). Ketiga, sinister or evil (jahat). Keempat, the super cripple (terlihat heroik dibuat hiperbolis). Kelima, as atmosphere (sebagai suasana). Keenam, laughable (ditertawakan). Ketujuh, his/her own worst enemy (musuhnya diri sendiri). Kedelapan, as a burden (beban sosial), Kesembilan, as non-sexual (makhluk aseksual), dan yang terakhir, being unable to participate in daily life (tidak mampu berperan dalam keseharian).

Kemudian stereotipe tersebut, menurut Roy juga digambarkan media di Indonesia. Seperti pelawak H. Bolot yang memiliki karakterisitik tuli (padahal tidak) dijadikan sebagai sesuatu yang lucu dan digambarkan menjengkelkan serta menjadi beban sosial. Lalu ada sosok Ucok Baba, seorang komedian little people, dan Anjasmara ketika berperan sebagai Cecep dalam sinetron Wah Cantiknya. Selain dijadikan sebagai sebuah hiburan komedi, penyandang disabilitas juga kerap dikaitkan dengan sesuatu yang menginspirasi. Salah satu contohnya seperti pada acara Kick Andy.

Roy berpendapat bahwa disabilitas tercipta karena lingkungan sosialnya. “Kita semua akan menjadi disability hari ini kalau tidak ada tangga atau lift menuju lantai delapan. Kita kehilangan kemampuan untuk sampai ke sini . Artinya disabilitas bukan di tubuh kita tapi lingkungan sosial yang membuat kita jadi gak berdaya,” ucap dia.

Intinya, menurut Roy, yang patut dipahami oleh media bahwa lingkungan sosial lah yang membentuk seorang penyandang disabilitas menjadi tidak berdaya. Paradigma inilah yang menurut dia patut dihancurkan. Cheta Nilawaty pun setuju dengan apa yang dikatakan Roy. Bahwa disabilitas bukanlah sebuah kondisi fisik tetapi lingkungan sosialnya yang membuat seolah-olah membuatnya tidak berdaya.

Mengenai pemberitaan media tentang penyandang disabilitas, menurut Rade Bunga sudah lumayan baik. “Bahwa berita yang ada mengenai disabilitas sudah mulai baik. Sudah menggunakan disabilitas. Sebelumnya kita pake tuh penyandang cacat ya. Sakit rasanya,”ujar Rade.

Kemudian, Koordinator komunitas JBFT tersebut mengaku, bahwa media yang meliput tentang disabilitas tidak lagi hanya fokus pada kemalangan yang mendera penyandang disabilitas tetapi juga menyangkut persoalan yang dihadapi oleh kaum penyandang disabilitas itiu sendiri. Khususnya pada belum maksimalnya fasilitas seperti trotoar maupun di kendaraan umum.

Yuktiasih Proborini, salah satu penyandang disabilitas daksa yang menjadi peserta dalam diskusi tersebut berharap bahwa isu disabilitas ini semakin dipahami masyarakat dan pemerintah sehingga tak ada kesalahan dalam pelayanan serta persepsi. Jadi harus satu kata dalam bagaimana melayani serta memahami penyandang disabilitas.(Beritatanahair.com)

Categorised in:

Comment Closed: Konstruksi Makna Oleh Media dalam Memandang Isu Disabilitas

Sorry, comment are closed for this post.