Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Pendidikan » PERHATIKAN HAK ANAK UNTUK BONUS DEMOGRAFI DAN GENERASI EMAS INDONESIA

PERHATIKAN HAK ANAK UNTUK BONUS DEMOGRAFI DAN GENERASI EMAS INDONESIA

(212 Views) Desember 3, 2018 10:25 am | Published by | No comment

PERHATIKAN HAK ANAK UNTUK BONUS DEMOGRAFI DAN GENERASI EMAS INDONESIA

 Jakarta , beritatanahair.com

“Kita dipersiapkan untuk jadi seorang ahli S1, S2, S3,  tetapi cenderung tidak persiapkan untuk jadi orang tua sehingga banyak yang terjun bebas (tanpa bekal pendidikan orang tua, Red),” ucap pegiat pendidikan keluarga, Nyi Mas Diane dalam seminar bertajuk, “Didiklah Anak Sesuai Zamannya.” Di Perpustakaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Perpusdikbud), Jakarta,  Sabtu (1/12/2018).

Dalam seminar yang digelar untuk merayakan ulang tahun Perpusdikbud yang ke-14 tersebut. Membahas bagaimana orang tua mesti mendidik anaknya di era digital seperti sekarang ini. Diane menyatakan bahwa peran orang tua itu penting. Orang tua sebagai pendidik yang pertama dan utama mesti mampu berperan dalam pembentukan karakter anak. Jika anaknya bermasalah, maka menurut dia, orang tualah yang patut dipersalahkan. Bukan negara, bukan pemerintah tapi diri pribadi sendiri.

Peran orang tua itu terangkum pada 3A yakni Asah, asih, dan asuh. Dalam peran asah, orang tua harus melakukan rangsangan dini pada semua aspek perkembangan anak. Jadi, orang tua sebagai pendidik pertama dan utama mesti memberikan pengetahuan pada anaknya. Lalu, asih, bertalian dengan pemberian rasa aman, nyaman, dan tenteram kepada anak dari tindak kekerasan baik di dunia nyata (real life) maupun dunia maya (virtual life). Orang tua juga harus berperan sebagai asuh yang mesti memenuhi kebutuhan gizi serta nutrisi anaknya dengan baik.

Wanita yang juga penulis buku, “Didiklah Anak Sesuai Zamannya” itu juga menerangkan, bahwa peran orang tua juga berpengaruh pada ketahanan nasional. Di mulai dari diri pribadi serta keluarga yang baik, akan menjadi sebuah tumpuan ketahanan nasional.

“Sebuah keluarga harus punya ilmu BBM dan 3A. Ilmu yang Baik, Benar, ilmu yang menyenangkan  dan praktik asih, asah, asuh. Anak-anak yang happy (senang, Red) dampaknya pengaruh pada masa depannya. Solusi cerdas untuk memperbaiki bangsa ini adalah berawal dari keluarga. ubah mindset, ubah pola pikir,” ucap wanita kelahiran Jakarta 28 Maret 1976 tersebut.

Memperhatikan Hak Anak

Dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1989 tertuang 10 hak anak, yakni hak untuk bermain, hak untuk mendapatkan pendidikan, hak untuk mendapatkan perlindungan, hak untuk mendapatkan nama identitas, hak untuk mendapatkan status kebangsaan, hak untuk mendapatkan makanan, hak untuk mendapatkan akses kesehatan, hak untuk mendapatkan rekreasi, hak untuk mendapatkan kesamaan, dan hak untuk berperan dalam pembangunan.

Hak-hak anak tersebut dilindungi negara, termaktub pada Undang-undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2014 pasal 21 ayat (1) yang berbunyi, “Negara, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah berkewajiban dan bertanggungjawab menghormati pemenuhan Hak Anak tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, etnik, budaya dan bahasa, status hukum, urutan kelahiran, dan kondisi fisik dan/ atau mental.”

Lanjutnya, Diane mengatakan bahwa orang tua pastinya akan selalu berharap bahwa anaknya kelak akan menjadi pribadi yang bertanggungjawab, mandiri, bahagia dunia dan akhirat. Selalu mengharapkan hal-hal positif melekat pada anaknya. Akan tetapi, Diane juga mempertanyakan, “Apakah orang tua memperhatikan hak anaknya?”

Hak anak yang paling pertama dan utama adalah main. Jadi, Diane menyarankan agar orang tua tidak melulu memarahi anaknya karena dia main.

 

Menyongsong Bonus Demografi dan Generasi Emas Indonesia

Bonus demografi Indonesia diperkirakan akan terjadi 2030. Bonus demografi adalah suatu kondisi di mana penduduk dengan usia produktif sangat besar sementara usia muda semakin kecil dan usia lanjut belum banyak.

Bonus demografi ini tentu akan membawa dampak sosial-ekonomi. Salah satunya adalah menyebabkan angka ketergantungan penduduk, yaitu tingkat penduduk produktif yang menanggung penduduk non-produktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat rendah, diperkirakan mencapai 44 per 100 penduduk produktif.

Jadi investasi untuk pemenuhan kebutuhan berkurang dan sumber daya bisa dialihkan untuik memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan keluarga.

Selain bonus demografi, perkiraan, pada tahun 2045, Indonesia akan dikuasai 70% penduduk berusia produktif. Ini biasa disebut generasi emas.

Oleh sebab itu, Diane mewanti-wanti agar orang tua zaman sekarang untuk bisa menjalankan peran 3A dengan baik. Hal ini berkaitan untuk menghasilkan anak yang berkualitas. Jadi tak hanya sekadar berusia produktif saja.

Fina Marfiana, salah satu pengunjung yang hadir dalam seminar itu menyatakan bahwa orang tua tidak sepenuhnya salah dalam mendidik anak.

“Kalau menurut saya banyak aspek kalau misalnya dibilang anak itu tidak benar atau tidak bagus gitu kan. Orang tua punya peran penting kalau saya bilang tapi tidak sepenuhnya kesalahan orang tua. Tapi, orang tua yang menyumbang paling penting dalam mendidik anak. Karena orang tua adalah dasar dari mendidik anak itu sendiri,” ujar wanita yang berprofesi sebagai guru TK itu.

Dari seminar tersebut, Fina mengaku membuka wawasan dia sebagai orang tua utamanya soal mendidik dan merawat anak serta menyamakan visi dengan pasangan dalam hal mendidik anak.

“Dengan bekal ini saya akan berusaha dengan suami menyamakan visi untuk lebih baik lagi. Bagimana caranya  mendidikan anak supaya lebih baik lagi nanti, supaya bisa mencapai generasi emas yang tadi sudah dijelaskan,” pungkasnya.(Ardhi R)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Categorised in:

Comment Closed: PERHATIKAN HAK ANAK UNTUK BONUS DEMOGRAFI DAN GENERASI EMAS INDONESIA

Sorry, comment are closed for this post.