Kota Bogor Bertekad Menata Serta Membenahi Situs Pajajaran & Kasundaan

Oleh : Dindin M Machfudz,
Praktisi Komunikasi dan Penulis Buku From Astra To Baitullah

DI tengah gencarnya kemunculan kerajaan abal-abal belakangan ini, Pemkot Bogor justru bertekad melakukan Revitalisasi Situs-situs Kerajaan Pajajaran atau Kerajaan Sunda. Langkah awal adalah penataan Kawasan Batutulis sebagai Kawasan Wisata Budaya yang Nyaman, Sehat, Bersahabat, Otentik, Bermartabat.


Untuk itu Pemerintah Kota Bogor hari Rabu ini akan menyelenggarakan Sarasehan dan Temu Budayawan dan Akademisi serta tokoh Inohong Kasundaan. Sebut saja Jenderal TNI Purn Agum Gumelar, Dirjen Kebudayaan Dr Wilmar Farid, Guru Besar Sejarah UNPAD Prof Dr Nina Lubis, Guru Besar Sejarah UI Prof Dr Agus Aris Munandar, para Budayawan Bogor dan dari berbagai Kota di Jawa Barat serta Banten. Disebut-sebut Panitia juga mengundang Budayawan Legendaris DR Ajip Rosidi, pencetus Penghargaan Rancage yang lama mukim di Jepang menjadi pengajar Kebudayaan di salah satu Universitas di Jepang.

“Sebab Sejarah Pajajaran itu bertemali erat dengan Kesultanan Banten serta Kesultanan Cirebon, dan Kerajaan Sunda Galuh,” ujar Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto di depan para Kepala Dinas Pemkot Bogor ikhwal diundangnya berbagai kalangan dalam Sarasehan hari ini di Balaikota Bogor.

Menurut Walikota, pihaknya akan melakukan penataan lengkap terhadap Situs-situs yang ada di Kawasan Batutulis, mulai situs Batutulis, situs gugunungan batu Purwakalih, Sumur Tujuh, Bungker, Petilasan Raja hingga Mbah Dalem. Kita ingin jadikan Kawasan Batutulis sebagai Kawasan Wisata Budaya Pajajaran dan Kasundaan yang Informatif, Edukatif, Komunikatif, Komprehensif, Bermartabat, Nyaman dan Bersahabat. Dengan demikian wisatawan atau publik dapat memperoleh informasi yang Otentik, Shahih, dan dapat dipertanggungjawabkan secara Ilmiah, khususnya Ilmu Kesejarahan dan Kearkeologian, di samping suasana yang nyaman dan menyenangkan.

Dari Sarasehan tersebut diharapkan tumbuh kesamaan bahasa, persespsi, visi serta dukungan para pemegang kepentingan atau stakeholders yang peduli dan cinta Situs-situs Kerajaan Pajajaran dan Kasundaan. Termasuk nilai-nilai Mulia dan Universal Filosofi Sunda seperti “Silih Asuh, Silih Asih, Silih Asah”, “Ngeduk cikur Kedah mihatur nyokel jahe kedah micarek” alias pentingnya Trust dan larangan Korupsi Dan sejenisnya, “Sacangreud pageuh Sagolek pangkek” alias pentingnya Komitmen dan menepati janji, “Nyaur kudu diukur Nyabda kudu diunggang” alias pentingnya Communication Skill dan berbicara itu harus benar, santun, tidak asal njeplak.

Salah satu buku untuk Referensi budaya sunda.(Beritatanahair.com)

“Untuk acara hari itu (29 Januari) saya belum dapat hadir, karena masih ada acara di luar kota. In sya Allah saya akan berada di Bogor setelah tanggal 5 Februari mendatang. Saya senang dan mendukung niat Walikota Bogor untuk Revitalisasi Situs-situs Pajajaran dan Kasundaan tersebut,” tutur Budayawan kawakan berusia 80 tahun tersebut dalam telponnya kepada penulis.

Selama ini Kota Bogor sudah dikenal sebagai Destinasi Kuliner seperti Soto Mie, Laksa, Toge Goreng, Asinan Bogor, Makaroni Bakar, Bolu Talas. Juga aneka bangunan bergaya arsitektur Kolonial peninggalan Belanda seperti Istana Bogor dan Gedung Karesidenan Bogor Raya, dan arsitektur khas Tiongkok seperti Klenteng di depan Pasar Bogor, Istana Bung Karno Batutulis. Tidak lupa panorama alam seperti Curug Nangka di Gunung Salak, Air Belerang di Sentul, Arung Jeram di Cisadane.

Juga tentu saja Pengrajin pembuat Gong di Pancasan, pengrajin Senjata khas Sunda Kujang Abah Wahyu, Gobang Cimande, Keris Sunda. Belakangan adalah hadirnya Museum Kepresiden RI di Balai Kirti di Kompleks Istana Bogor yang dibangun di tahun terakhir masa Khidmat Presiden SBY tahun 2014 yang menampilkan Sosok patung Presiden Pertama Bung Karno, Soeharto, BJ Habibie, Gus Dur, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono.


Ada pun yang terbaru yang sedang dirembug adalah Revitalisasi Situs-situs yang berada di Kawasan Batutulis ini, yaitu situs Batutulis, situs gugunungan batu Purwakalih yang diduga merupakan miniaturnya Peradaban Megalitikum pra-Sejarah di Gunung Padang, Sumur Tujuh, Petilasan Raja Pajajaran, Pemandian putri Raja di Rancamaya, Kuburan Mbah Dalem, bekas Keraton Kerajaan Pajajaran di sekitar Cipaku di dekat Istana Batutulis.


Sebagai warga kelahiran Bogor, Penulis masih ingat betul, di Cipaku inilah pernah belajar Silat Cimande yang dibimbing oleh Istri dan 3 putra Pendekar Cimande Ki Oding, termasuk olah ilmu pemukul andalan Brajamusti. Selain di Cipaku, Ilmu Silat Cimande tersebut juga diperdalam lagi dengan bimbingan Kang Idang Guru Silat Mumpuni di Perguruan Cimande Panji Semirang untuk Jurus Anti serangan senjata tajam seperti pisau, golok, pedang, trisula, tombak. Sebuah pengalaman yang mengasyikan tentunya. Dan tak terlupakan.

Di Tarik Kolot Cimande (nama sebuah Sungai kecil) merupakan kawah Candradimuka Prajurit Kerajaan Pajajaran. Saban bulan Maulid Nabi Muhammad Saw, Tarik Kolot Cimande banyak didatangi para pesilat dari berbagai kota. Saat itu selain didemonstrasikan atraksi Jurus Cimande, juga Sesepuh Cimande memandikan berbagai Senjata andalan sembari bercerita tentang kisah-kisah Senjata tersebut. Termasuk Golok Si Gobang yang bisa kembali sendiri ke tempatnya. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *