TELAAH KEMANUSIAAN EKS ISIS DAN ROSO KEADILAN

Oleh : Dindin M. Machfudz

Jurnalis Senior/Penyuka Berpikir Sufistik

HARI-HARI ini kita dipaksa mengernyitkan dahi, terutama oleh perilaku elite bangsa di bidang politik, hukum, keilmuan, bisnis. Mereka seakan tersandung atau tersandera dalam pusaran keangkuhan kekuasaan dan keilmuan serta kelimpahan harta dan tahta. Mirip di era Fir’aun dengan “ketengilan” ala Qorun, Haman, Samiri yang merupakan “Gank-nya” Fir’aun atau Inner Cyrcle-nya Fir’aun. Pertama, lihat saja kasus ex-ISIS warga Indonesia yang sampai hari ini masih kontroversi dan ditolak pulang kembali ke Tanah Air. Menurut Prof Hikmamto, Presiden hari ini (12/2) telah memutuskan menolak kembalinya para simpatisan dan atau kombatan ISIS (Islamic State Iraq and Syria) tersebut ke Tanah Air. Hikmanto bersetuju terhadap keputusan tersebut dengan dalih Presiden Jokowi telah mengambil keputusan yang tepat demi melindungi 267 juta jiwa rakyat Indonesia dari terorisme.

Buat Hikmanto kayaknya tiada maaf bagimu. Sementara sebelumnya Ngabalin, mantan Jubir Presiden Jokowi dengan angkuhnya di TV One mengatakan : “Sampai detik ini pemerintah Republik Indonesia tidak ada keinginan untuk memulangkan mereka, mereka adalah makhluk-makhluk yang nggak jelas kewargaan negaranya. Mereka adalah teroris.

Lalu pakar Hukum Tata Negara Refli Harun dengan kalem menanggapi : Tentunya kita harus melihatnya dari berbagai dimensi, yaitu dimensi hukum, dimensi kemanusiaan, dimensi keadilan. Sebab kalau aspek hukum saja tidak akan ketemu. Selalu ada dua pendapat atau kontroversi. Pertama, kita harus mengacu kepada Konstitusi Negara kita, yaitu UUD 1945 (lihat pasal 27 – 28). Dalam konstitusi ini Negara menjamin setiap warga Negara akan haknya, kesejahteraannya, pendidikannya, kesehatannya, dan mengemukakan pendapatnya. Artinya Negara tidak boleh membiarkan warga negaranya “kelayaban” di Negara lain. Bilamana dia tersesat maka harus diupayakan agar anak bangsa tersebut tidak tersesat terus. Ibaratnya Orangtua terhadap anaknya yang bandel. ” Masalahnya kemudian, sudahkah Negara kita mengusahakan agar sang anak yang telah tersesat, yang memegang ideology Khowarij tadi dipanggil pulang, lalu ditanya dan diberi nasihat?! Jawabnya ringkas : “Belum”. Loh, kalau belum memanggil, kok sudah melarang pulang? Belum “tabayun” kok sudah apriori, sudah suudzon? Padahal secara lugas Allah memerintahkan kita untuk “tabayun” dan melarang berprasangka buruk (lihat QS Al-Hujurat). Kan NKRI tumpah darah bersama. Tanah Air bersama. Kan Nabi Saw pernah mengatakan, “Ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan, sementara kehati-hatian itu dari Allah”.

Sebagaimana Nabi Muhammad meminta penjelasan kepada seorang sahabatnya yang berkirim “surat rahasia” ke penguasa Mekah yang hari itu justru akan dibebaskan oleh pasukan Muslim. Nabi lantas memanggilnya ke dalam Masjid Nabawi, sementara Umar bin Khathab sudah siap-siap hendak menebas leher “pengkhianat” tersebut. Kata Nabi, “Sabarlah Umar. Dia ini veteran Perang Badar yang sudah diampuni segala dosanya oleh Allah. Ada baiknya dia menjelaskan dulu apa motifnya berkirim surat kepada penguasa di Mekah.” Ternyata, sang sahabat yang berkirim surat rahasia yang berisi kekuatan pasukan Islam yang dipimpin langsung oleh Panglimanya Nabi Muhammad tersebut ingin menyelamatkan keluarganya dari teror dan siksaan penguasa lalim di negeri asalnya di Mekah.

Lalu Nabi pun memaafkannya seraya mengingatkan jangan lagi mengulang perbuatan khianat tersebut. Umar pun seketika “Sami’na wa-atho’na” alias taat dan patuh, meski pedangnya sudah siap menebas leher sang pengkhianat tadi. Pengalaman serupa dialami oleh Nabi Musa As tatkala pulang kembali ke Mesir dari negeri Madian setelah membunuh seorang pemuda dari suku bangsa minoritas tapi berkuasa yang sesuku dengan Fir’ aun dan bertemu serta berbicara dengan Fir’ aun untuk berdakwah atas perintah Allah. Kata Fir’aun : “Bukankah kamu pernah hidup bersama kami, wahai Musa. Tapi kenapa hari ini kau berani menentang aku?!” Nabi Musa memang pernah dirawat sejak bayi dan dibesarkan dalam istana Keluarga Fir’aun yang super kuasa.

Kala itu Fir’aun pernah memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir di masa itu, sebab khawatir bayi tersebut akan merebut kekuasaannya. Musa yang saat itu bayi justru diselamatkan dari sungai Nil dan dirawat serta dibesarkan oleh Asiyah istri Fir’aun. Musa menjawab : “Memang benar aku pernah dibesarkan di istana ini dan telah membunuh seorang pemuda secara tidak sengaja. Tapi hari ini aku bersama Harun diutus Allah kepadamu agar kamu menyembah Tuhan yang telah menciptakan bumi dan langit termasuk dirimu.” “Hahahaha …” tiba-tiba Fir’aun tertawa ngakak. Tawanya meledak mengagetkan. “Aku adalah tuhan kamu, Musa,” kata Fir’aun. Bayangkan saja, Fir’aun yang musyrik dan mroso setara Tuhan saja membolehkan pulang Musa As ke tanah Mesir. Itu pertama. Kedua, Nabi Muhammad Saw sehabis membebaskan Mekah dari kekuasaan Jahiliyah Quraish di tahun 630 Masehi, memaafkan Wahsyi yang membunuh Pahlawan Islam terkemuka Hamzah yang bergelar “Singa Padang Pasir” dengan tombaknya hingga tembus dari dada ke pinggang belakang Syuhada Besar itu. Bukan hanya itu, tapi yang membuat Nabi bersedih hati adalah habis gugur ditombak lalu jasad sang Pamanda tercinta Nabi itu dirusak dengan membelah perutnya dan “mengodok” ususnya serta jantungnya untuk dimakan oleh Hindun si perempuan jalang yang pendendam. Waktu itu di Perang Uhud, Nabi menangis dan marah seraya mengatakan : “Sungguh, kebiadaban seperti yang dialami Hamzah ini belum pernah terjadi sebelum ini dan sesudah perang ini.” Lalu ketika Paman Abbas membawa Wahsyi ke hadapan Nabi dan Nabi meminta si bekas budak yang saat itu telah menyesali perbuatannya dan memeluk Islam itu, Nabi meminta si Wahsyi menceritakan asal-muasal perbuatan biadab itu.

Habis itu Nabi memaafkannya seraya berkata : “Mulai sekarang, ada baiknya kau menjauhlah dari diriku, Wahsyi.” Suatu saat Wahsyi menjadi Pahlawan Pasukan Muslim yang tangguh sebagai penebus kesalahannya di saat musyrik dulu. Selanjutanya agar perspektif kita tentang kemanusiaan dan keadilan itu semakin clear dan clean, penulis mengajak para pembaca untuk menelusuri dan memperhatikan dialog antara Cucu Nabi Saw Husein bin Ali bin Abi Thalib dengan seseorang yang datang ke padanya pada suatu ketika, yang penulis kutip dari buku biografi karya Budayawan kondang Dr Ali Audah bertajuk “Ali bin Abi Thalib sampai kepada Hasan dan Husein”. Husein dikenal sebagai sosok laki-laki yang tampan-rupawan, berkulit putih kemerahan sebagaimana kakeknya, cerdas, argumentatif, responsif, empatik, simpatik dan cekatan dalam berbicara, tegas, dan cepat mengambil keputusan, penuh toleransi, dan konsisten. Hidupnya penuh kemuliaan dan selalu siap mati syahid membela Islam sebagaimana Ayahandanya tercinta Sayidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah. Dialog tersebut begini : “Wahai Husein, saya Manusia durhaka. Saya tak dapat meninggalkan perbuatan maksiat. Berilah saya nasihat, duhai Cucu Rasulullah.” “Baik. Ada lima hal yang perlu Anda lakukan, lalu berbuatlah dosa sekehendak Anda,” kata Husein. “Apa itu?” “Jangan makan makanan karunia dari Allah,” jawabnya.

“Bagaimana mungkin?!” kata orang itu. “Apa yang harus saya makan kalau begitu?! Semua yang ada di alam ini karunia dari Allah. Apa yang kedua?” “Keluarlah dari bumi Allah, lalu berbuatlah dosa sekehendak Anda.” “Ini lebih berat lagi, saya harus tinggal di mana?! Yang ketiga?” “Cari suatu tempat yang tidak terlihat oleh Allah, setelah itu berbuatlah dosa sekehendak Anda.” “Caranya? Tiada sesuatu apa pun yang tersembunyi dari Allah,” katanya kebingungan. “Yang keempat,” kata Husein meneruskan, “Kalau datang malaikat maut akan mencabut nyawamu, pertahankanlah diri Anda, lalu berbuatlah dosa sekehendak Anda.” Orang itu makin bingung, gemetar seraya berkata : “Tinggal lagi yang kelima. Mudah-mudahan lebih ringan dari semua itu.” “Kalau malaikat mau menjebloskan Anda ke dalam neraka,” kata Husein menjelaskan yang kelima, “Jangan mau. Setelah itu berbuatlah dosa sekehendak Anda.” “Cukup, cukup! …” kata orang itu kehabisan akal. “Dari sekarang Allah tidak akan lagi melihat saya berbuat segala yang tidak disukai-Nya.” Alhamdulillah wa syukurillah. Tokcer.

Quick Response. Positive Feedback. Orang itu kontan bertaubatan Nashuha. Menyungkur sujud ke Haribaan-Nya. Padahal Allah adalah Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Kuasa sehingga Langit, Bumi, Gunung, Angin, Hujan, Matahari, Bulan, Tsunami, Harimau, juga Virus Corona dan Lautan Yang Maha Luas tunduk patuh kepada-Nya. Kemurahan-Nya so pasti mendahului Kemurkaan-Nya. Keadilannya mendahului hukuman-Nya. Ampunan-Nya mendahului Azab-Nya. Lantas, kenapa pemerintah kita dengan tegas menolak warga Indonesia yang ingin pulang ke Bumi Ibu Pertiwi ini setelah tersesat dan menyesal dan ingin pulang?! Bukankah NKRI ini pun Bumi Allah juga?! Bukankah Arcandra yang sudah melepaskan Kewarganegaraan RI-nya untuk menjadi warga Negara Amerika Serikat, dibolehkan kembali dan menjadi warga Negara RI lagi untuk menjadi Wakil Menteri ESDM?! Bukankah dedengkot PKI yang telah membantai ribuan kaum Muslim beserta para Kyainya dan sejumlah Jenderal Terbaik Indonesia pada pra -Gestapu PKI telah dibebaskan dari tahanan oleh Presiden Prof BJ Habibie?! Walhasil, telaah hukum an sich dalam konteks ini tidaklah memadai untuk menyoroti sebuah kasus kemanusiaan seperti ex-ISIS ini. Terlebih di dalamnya ada anak-anaik atau bocah yang tidak berdosa dan perlu diselamatkan segera. Sebab manusia itu de facto realitasnya multi dimensional. Karenanya, ia manusia kudu didekati dengan pemikiran yang cemerlang, di samping pemikiran yang juga multi dimensi dengan mengerahkan seluruh keilmuan yang kita miliki sebelum tiba pada sebuah keputusan final. Ya, pemikiran filsafatinya, ya pemikiran sufistiknya, ya pemikiran metafisiknya.

Sebab, approach satu disiplin ilmu saja sangat tidak memadai, tidak reasonable, tidak valid, tidak shahih, tidak otentik untuk memahami manusia dan institusi sosialnya serta menimbang adil-tidaknya sebuah ketetapan Pemimpin Bangsa. Metode ilmu itu tiada lain adalah konsepsi yang partisan dan sektoral serta memiskinkan realitas sebenarnya yang lebih luas dan maha luas, terlebih untuk memahami keberadaan manusia dan hakikat keadilan secara absah. Tentunya diperlukan pertimbangan nalar yang sehat, matang dan integral. Jangan pula tergesa-gesa memutuskan suatu perkara jika premis mayor dan premis minornya serta terminus-mediusnya belum mencukupi. Hasilnya bakal tidak kompeten, tidak otentik, tidak utuh, tidak manusiawi, tidak humanis, bahkan cenderung dehumanisasi, tidak adil dan amoral serta asocial, dan karenanya mendapat tentangan dari berbagai penjuru bumi. Termasuk dari Media asing yang kacamatanya acap lebih jernih ketimbang sebagian media kita yang cenderung “yes man” dan ABS alias sekedar corong rezim yang berkuasa ketimbang berpikir kritis dan bersikap korektif. Di sinilah penulis tidak setuju dengan pandangan Prof Dr Hikmanto dan Jubir Presiden di acara Mata Najwa Tv -7 Rabu lalu.

Lagian sang Profesor hukum itu emosional, ngotot nggak puguh sehingga porsi berbicara Fadli Zon sering dibajaknya. Tidak terbersit sama sekali kearifan seorang Guru Besar Ilmu Hukum saat itu. Yang ada adalah keangkuhan seorang intelektual terhadap keilmuannya. Seakan khasanah ilmua yang laing benar. Demikian juga tatkala Ngabalin mantan juru bicara Presiden berbicara di Tv One yang berdiskusi dengan pakar Hukum Tata Negara Refli Harun. Dik Ngabalin ini juga ngotot dan suka menyerobot porsi bicara Refli sehingga yang tampil adalah justru antipasti publik terhadapnya. Sebagai komunikator dan apalagi jubir dia telah gagal memetik simpati. Terlebih meraih cinta publik. Kehadirannya hanyalah menjadi faktor pendulang kebencian publik. Dia telah gagal menjadi Jubir atau Komunikator yang efektif. Dia telah gagal menampilkan citra dirinya sendiri. Menjadi tidak kredibel. Dalam penutup ini penulis ingin kutipkan Ayat Allah yang Mulia dalam QS An-Nisa : 135 : “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya).

Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan kata-kata atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan.” Juga dalam QS Al-Maidah : 8 : “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, ketika menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” Semoga saja keputusan “menolak” tersebut dapat dipertimbangkan kembali, meski mereka ex-ISIS itu penganut Khowarij yang pikirannya dangkal dan sesat (Khowarij adalah paham yang berkhianat kepada Amirulmukmin Khalifah Ali bin Abi Thalib saat Perang Shifin melawan pasukan Muawiyah yang membangkang, pada tahun 661 Masehi.

Mantu Nabi ini gugur setelah ditikam oleh pentolan Khowarij bernama Abdullah bin Muljam sesaat Imam Ali akan mengimami Sholat Subuh di Masjid Kuffah. Pada 24 Januari 661 atau tiga hari setelah ditebas kepalanya, beliau wafat dan dimakamkan pada tanggal 20 Ramadhan 40 Hijriah. Paham ini menghalalkan darah sesama Muslim serta sering menuding kafir kepada Umat Islam yang berbeda paham atau Mazhab; pen). Hukumlah ex-kombatan ISIS itu dengan adil. Tapi jangan keluarganya terlebih anak-anaknya dihukum. Islam atau Allah mengajarkan kita : Barangsiapa membunuh dia harus dibunuh pula, darah bayar dengan darah pula, mata dengan mata, itulah hukum Qhisas. Tegas, lugas. Tapi tetap ada kekecualiannya, yaitu jika dimaafkan oleh keluarga si terbunuh maka dia harus dibebaskan dan wajib membayar diat. Itulah hukum Allah dalam QS AlBaqarah. Dalam Al-Qur’an Allah menyebut term “kafir” sebanyak 525 kali. Tapi manakala sang “kafir” tersebut atau mereka yang “tertutup akal dan hatinya dari Cahaya Allah” itu “Bertaubatan Nashuha” dan mengucapkan “Dua Kalimat Syahadat” dengan sungguh-sungguh alias menjadi Mualaf, maka gugurlah semua dosa-dosanya seketika. Putih bagaikan salju. Itulah Keadilan Ilahiah. Ikuti jejak-lengkah-Nya agar kita dapat memetik ridho Allah.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *