Di Kemenko Marves JUBIR BELUM PIAWAI MENGELOLA KOMUNIKASI

BERITATANAHAIR.COM

Sekalipun lebih awal muncul pandangan MSD di link Youtube (link pertama), namun langsung ada reaksi, menurut saya, berlebihan dari seorang jubir sebagaimana dimuat pada link kedua.

Boleh jadi tidak diduga sebelumnya oleh si jubir dan menterinya. Berita selanjutnya muncul pandangan yang memberikan dukungan luar biasa dari tokoh di republik ini kepada MSD sebagaimana termuat pada link ketiga.

Dialektika di atas dari aspek komunikasi, menurut hemat saya, sangat tidak menguntungkan bagi Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marves) dan bagi menterinya sendiri melaksanakan tugasnya, terutama dalam upaya maksimal menangani Covid-19.

Lalu apa yang terjadi? Dari segi opini, apa yang disampaikan oleh jubir ke ruang publik justru menimbulkan “efek pantul cermin” dan berpotensi menguntungkan MSD.

Menko Marves LBP Saat Masih Menjabat Dan-Seskoad di Bandung Jawa Barat pada Tahun 1998.(Foto :Ist /Beritatanahair.com)

Menurut pendapat saya, reaksi dari jubir tersebut menunjukkan dia belum piawai mengelola komunikasi di Menko Marves. Jika jubir ini lulusan sarjana komunikasi, penanganan seperti ini sudah diberikan pada matakuliah Manajemen Public Relations.

Memang bisa kemungkinan lain. Seorang pimpinan di suatu institusi tidak menciptakan suasana memungkinkan bawahan berani berbeda pendapat demi tujuan lebih baik.

Oleh karena itu, sejatinya ada dua hal utama yang dilakukan oleh jubir tersebut. Pertama, memberi masukan kepada menterinya, utamanya pada situasi negara sedang fokus menangani Covid-19, supaya dirinya (jubir) tidak perlu menyampaikan ke ruang publik agar MSD minta maaf dan tidak perlu harus melalui proses hukum.

Jika ide untuk minta maaf dan atau menempuh jalur hukum dari menterinya, justru jubir harus berani berbeda pendapat dengan menterinya demi tujuan yang lebih besar. Karena itu, jubir harus berperan sebagai “konsultan” komunikasi bagi pimpinannya (Menko Marves). Jadi jubir tidak boleh seperti pesuruh yang selalu mengucapkan dan atau berperilaku “ada perintah” apalagi APS (asal pimpinan senang).

Bila perilaku jubir seperti itu sama saja menjerumuskan pimpinan di ruang publik. Ini bisa mengganggu eksistensi pumpinan di ruang publik. .

Kedua, mengemukakan kepada publik bahwa apa yang disampaikan oleh MSD kami akan pelajari dengan sungguh dan kaji lebih mendalam, tetapi mohon maaf belum dapat kami lakukan sekarang karena kami memusatkan pikiran dan tenaga menghentikan penyebaran dan penaganan akibat covid-19.

Sembari mengakhiri pembicaraan dengan mengucapkan, “tolong sampaikan salam hormat saya buat MSD”.


Emrus Sihombing
Lembaga EmrusCorner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *