Natalius Pigai : Injil berbahasa Minang Tidak Relevan,bahasa Indonesia Sudah cukup

Beritatanahair.com

Natalius Pigai mantan komisioner HAM tidak setuju jika injil berbahasa minang dia menilai bahwa hal ini akan mencederai etnis minang yang sebahagian besar beragama Islam akan tersakiti dan bisa memicu Sara.

Pegiat HAM Asal Papua melalui pesannya kepada beritatanahair.com menuturkan bahwa, “Suatu instrumen (barang) diadakan berdasar atas asas: Nesesitas, urgensitas dan utilitàs, dilihat dr 3 asas ini mk Aplikasi Injil Bahasa Minang jd tidak relevan. Jika ada orang yg punya niat membaca maka Alkitab Berbahasa Indonesia sudah cukup,” terang pigai.

Natalius Pigai Negarawan Asal Tanah Papua.(Beritatanahair.com)

Artinya kalau ada yang ingin mempelajari injil dari minang atau asal sumatera barat cukuplah pakai aplikasi bahasa indonesia ini sudah sangat mewakili.

Terpisah Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Sumatera Barat Jasman Rizal sampaikan aplikasi Injil berbahasa Minang telah dihapus dari Play Store.

Jasman mengatakan pihaknya sudah lama mengetahui aplikasi tersebut dari pengaduan masyarakat. Gubernur Sumbar Irwan Prayitno juga telah menyurati Menkominfo Johnny G. Plate untuk menghapus aplikasi tersebut.

“Kini aplikasi itu sudah dihapus oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi ” kata Jasman, Jumat (5/6/2020).


Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno telah menyurati Menkominfo pada 28 Mei 2020. Dalam surat itu ia mengatakan masyarakat Minangkabau keberatan dan resah terhadap aplikasi tersebut.

Seperti kami lansir dari Republika Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padang Buya Duski Samad mengatakan pihak yang membuat kitab suci umat Nasrani, Injil dengan menggunakan bahasa minang hanya akan memicu konflik suku agama dan ras (SARA).

Buya Duski Samad meminta umat beragama tidak terpancing karena selama ini orang Minangkabau selalu menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama.”Pihak-pihak yang membuat kitap suci kristen dengan bahasa Minang itu kan dapat memicu SARA. Kami minta umat agama lain agar tidak terpancing dengan hal ini,” kata Buya Duski di Masjid Al Qadar, Siteba, Padang, Jumat (5/6/2020)

Buya Duski Samad menyayangkan adanya aplikasi yang menyediakan kitab Injil dengan bahasa Minangkabau. Harusnya, menurut Buya Duski, semua pihak tidak lagi melakukan hal-hal yang memicu konflik SARA. Apalagi saat ini bangsa Indonesia sama-sama berjuang terlepas dari virus corona. Dan virus corona selama ini menurut Duski Samad telah membuat kehidupan masyarakat menjadi sulit.

“Sudahlah. Kita sedang disibukkan oleh covid-19. Jangan ditambah lagi dengan isu SARA. Itu tandanya akan ada yang mau menangguk di air keruh,” ujar Buya Duski Samad.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang itu menambahkan masyarakat Minang selama ini sudah tidak perlu lagi diajarkan mengenai toleransi antar umat beragama. Masyarakat Minangakabau menurut Buya Duski Samad sangat memahami bagaimana hidup berdampingan satu sama lain walau ada perbedaan keyakinan.(bta_003)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *