Lelang Uang Tanda Tangan Pak Harto untuk Bantu Jurnalis Kena Covid-19

Beritatanahair.com

Ide meminta tanda tangan Presiden RI ke-2 Soeharto di atas uang pecahan Rp 50.000 (Polymer Penerbitan Khusus 25 Tahun Indonesia Membangun) milik saya, terjadi pada tanggal 28 September tahun 2000. Saat itu Pak Harto sudah lengser sebagai Presiden Indonesia.

Ide itu sendiri sebenarnya muncul spontan. Saat itu, sebagai Jurnalis di salah satu media televisi nasional, saya ditugaskan untuk mengamati situasi di sekitar kediaman Pak Harto di Jalan Cendana, terkait adanya informasi bahwa sekelompok orang akan melakukan aksi unjuk rasa di depan kediaman Pak Harto. Kebetulan, saat itu saya baru saja gajian. Tidak seperti sekarang dimana gajian ditransfer ke rekening pribadi, saat itu gajian masih diberikan secara tunai.

Pada saat mengamati situasi di sekitar kediaman Pak Harto, datanglah Pengacara Keluarga Pak Harto, yaitu Pak Juan Felix. Secara spontan saya menghubungi dia, dengan tujuan meminta tolong untuk meminta tanda tangan Pak Harto di atas 2 (dua) lembar uang gajian saya pecahan Rp 50.000. Ide itu muncul begitu saja, mungkin karena sekitar seminggu sebelumnya saya membaca cerita tentang hobi mengoleksi benda-benda bersejarah.

Gayung bersambut. Pak Juan Felix bersedia membantu. Lalu saya serahkan 2 (dua) lembar uang pecahan Rp 50.000 milik saya, dan saya terima kembali beberapa hari kemudian. Tentu saja saya senang, karena di bagian kanan atas uang pecahan Rp 50.000 berbahan Polymer itu sudah tertera tanda tangan Pak Harto.

Pemilik uang

Bagi saya, tentu saja ini merupakan sesuatu yang membanggakan, karena tentunya tidak mudah mendapatkan tanda tangan asli Pak Harto, terlebih saat Beliau belum lama lengser. Hal ini kemudian saya ceritakan ke beberapa orang, sampai akhirnya ada teman yang meminta saya untuk tujuan yang sama. Saat itu dia bahkan memberikan lembaran uang yang lebih banyak, yaitu 20 (dua puluh) lembar pcahan Rp 50.000, sehingga totalnya Rp 1 juta.

Saat itu saya sebenarnya sudah bersedia membantu dia. Namun belakangan terpikir oleh saya, kalau ada uang lain bertanda tangan asli Pak Harto, maka uang milik saya menjadi tidak eksklusif lagi. Karena itu, dengan alasan Pak Harto semakin sulit ditemui, maka uang 1 juta itu saya kembalikan ke teman saya tanpa tanda ditanda-tangani Pak Harto.

Pada awalnya, saya tidak terlalu berpikir jauh saat meminta Pak harto menanda-tangani uang milik saya. Namun dalam perkembangan terakhir, saya menyadari bahwa apa yang saya miliki ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi.

Sebab kita tahu, Jenderal Soeharto adalah Presiden Indonesia yang paling lama berkuasa, sehingga cerita mengenai sosoknya begitu banyak dan beragam, baik sebagai pribadi maupun presiden. Terlepas dari adanya sisi kelam dalam perjalanan hidupnya, Pak Harto akan tetap dikenang. Beliau tetaplah the Smiling General yang melegenda, tidak saja bagi Indonesia, tapi juga dunia.

Sekian tahun berlalu sejak Beliau wafat, saya semakin menyadari bahwa nilai historis uang milik saya ini semakin tinggi. Setelah merawatnya selama 20 tahun (2000 s/d 2020), saya berpikir, inilah saat yang tepat untuk melelang barang berharga ini.

Tentu saja saya berharap, nilai historis yang melekat pada uang milik saya ini akan mendapat apresiasi tinggi, sehingga mendapatkan penawaran tinggi sesuai dengan nilai historisnya yang tidak ternilai. Dana hasil lelang, selain akan saya gunakan untuk biaya pendidikan anak saya, juga sebagian untuk membantu teman-teman jurnalis yang terdampak Covid 19.(Poskota.co)

Whatsapp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *