Pondok pesantren Ma’had Al-Furqon Muhammadiyah di Kec Laren – Kab Lamongan, Jawa Timur kembali terbakar

Lamongan , Beritatanahair.com

Sepekan setelah terbakar pada awal tahun 2021, Pondok pesantren (Ponpes) Ma’had Al-Furqon Muhammadiyah di Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kembali terbakar pada Jumat, 8 Januari 2021. 

Hal itu memunculkan dugaan bahwa pesantren tersebut dibakar oleh orang tak bertanggung jawab. Dugaan itu dikuatkan dengan adanya ceceran minyak tanah di lokasi kejadian.

Jika pada tanggal 1 Januari lalu yang terbakar adalah pondok putra, kali ini pondok putri yang jadi santapan si jago merah.

Video yang merekam detik-detik kobaran api melahap bangunan pesantren tersebut, viral di media sosial. Dalam video berdurasi 25 detik itu, tampak sejumlah pria dengan panik mencoba memadamkan api.

Beruntung, api segera dapat dipadamkan sebelum bagian dalam pesantren dilahap api. Meski begitu, kerugian material akibat kebakaran tersebut mencapai Rp15 juta.

Pengurus pesantren, Muhammad As’ad Abdul Bari’ menyebut kebakaran ini sebagai bentuk teror.

“Kemarin pondok santri laki-laki, sekarang perempuan,” katanya.

Kasus kebakaran pesantren ini kini tengah ditangani oleh pihak Polsek Laren, yang kantornya berada sekitar 1 kilometer dari pesantren tersebut.

Segera Tangkap Pembakar Pesantren Muhammadiyah di Lamongan

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur yang membidangi pendidikan, Achmad Jainuri, mengatakan, secara psikologis para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Ma’had Al-Furqon Muhammadiyah di Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, mengalami tekanan. Mereka tak menyangka bila kejadian pembakaran di tempat belajarnya terjadi dua kali dalam kurun waktu satu pekan.

”Ya, para santri di pondok pesantren tersebut jelas tergangu sisi kejiwaannya. Bayangkan, dalam waktu yang tak lama tempat belajarnya terbakar. Yang terakhir terjadi Jumat lalu (8/1) dan kejadian yang sama juga terjadi beberapa hari sebelumnya,” kata Achmad Jainuri, ketika dihubungi Republika, Senin sore (11/1).

Menurutnya, pihak pengurus Muhammadiyah tingkat cabang dan daerah pun kaget. Mereka tidak menyangka kejadian seperti itu terjadi.

”Maka, kami dari PWM dan PDM (Pengurus Daerah Muhammadiyah) Jawa Timur pun mengunjungi pesantren tersebut. Dan di sana kami meminta kepada pihak kepolisian untuk segera mengusut dan mencari pelakunya. Ini semakin penting karena peristiwa kebakaran terjadi pada siang hari.”

”Ketika kami menemui pihak kepolisian setempat mereka menyatakan tengah mengumpulkan bukti. Dan polisi juga menyatakan, masih kesulitan mengumpulkan bukti karena tidak adanya semacam CCTV,” tegasnya.

Jainuri menyatakan, posisi pesantren itu merupakan tempat pendidikan baru atau masih merupakan rintisan. Letaknya di tengah kampung. Jadi, memang masih sederhana, karena itu wajar kalau tak punya CCTV.

Menyinggung ada gesekan dengan warga setempat, Jainuri mengatakan, dari pernyataan pengurusnya hubungan mereka dengan warga yang kebanyakan warga Nahdliyin baik-baik saja. Hubungannya sangat akrab.

”Ini dibuktikan ketika pesantren terbakar para jamaah masjid yang berada di dekat pesantren justru yang ramai-ramai menolong memadamkan api. Jadi, ini jelas tak ada masalah. Mereka merupakan saudara kami,” tegasnya.

Terkait pengusutan kasus terbakarnya pesantren tersebut, Januari mendesak agar dalam waktu cepat bisa dituntaskan. Hal ini sangat penting karena bisa menjadi melebar ke mana-mana terkait suasana nasional hari ini yang terasa ‘panas’. Dan bila pelakunya bisa ditemukan maka suasana menjadi tenang kembali. Para santri bisa belajar dengan nyaman.

”Saya sendiri punya keyakinan pelakunya bukan orang gila. Ini karena sampai terjadi dua kali pembakaran. Saya duga, ini pelakunya adalah orang yang ingin buat rusuh dan resah saja. Maka, kami mendesak agar polisi segera menangkap pelakunya biar semua soal menjadi jelas,” ujar Achmad Jainuri menegaskan.

Terkait kasus terbakarnya Ponpes Muhammadiyah di Lamongan itu, cendikiawan Prof DR Azyumardi Azra mendesak agar polisi segera dan serius melakukan pengusutan. Untuk itu, polisi jangan terburu-buru menyatakan tersangka pelaku sebagai orang yang tidak waras atau mengalami ganggaun jiwa lainnya.

”Saya kira, polisi jangan terburu-buru menyatakan tersangka pelaku sebagai ‘tidak waras’ dan gangguan jiwa dan sosial lainnya. Umat Islam atau khususnya warga Muhammadiyah tidak trprovokasi untuk melakukan melakukan aksi,” kata Azyumardi.

Selain itu, lanjut Azyumardi, kepada pihak ormas Islam, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persism, dan lainnya yang mengelola yayasan pendidikan memperketat pengamanan seluruh asetnya, seperti sekolah, madrasah, pondok pesantren, masjid, dan mushala.

Berita ini kami lansir dari REPUBLIKA.CO.ID dgn judul yang sama

(bta_002)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *